Di Tempat Umum, Kita Tidak Sendirian
Bayangkan kita sedang duduk di ruang tunggu. Seseorang memutar video dari ponselnya dengan suara keras. Ia tampak menikmati tayangan itu, tetapi orang-orang di sekitarnya ikut mendengar tanpa memilihnya. Sebagian mungkin sedang membaca, beristirahat, atau menenangkan anak. Bagi pemilik ponsel, itu sekadar hiburan. Bagi orang lain, belum tentu demikian.
Gambaran sederhana ini mengajak kita bertanya: apakah kenyamanan kita sedang mengusik orang lain? Di tempat umum, kita tidak sendirian. Ada hak orang lain yang perlu dijaga, meskipun kita tidak mengenal mereka dan mereka tidak menyampaikan keberatan. Maka dari itu seorang muslim perlu memerhatikan adab di tempat umum.
Adab yang berkaitan dengan iman
Iman tidak berhenti pada keyakinan di dalam hati. Syekh Shalih Al-Fauzan menjelaskan bahwa iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Oleh karena itu, perilaku kita terhadap sesama juga perlu ditimbang dengan tuntunan agama.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
Dalam hadis tentang hak jalan, beliau juga menyebutkan,
كَفُّ الأَذَى
“Menahan gangguan.”
Tuntunan ini mengarahkan perhatian kita kepada dampak perbuatan. Saat menggunakan ruang bersama, kita perlu memikirkan adab di tempat umum, bukan hanya apa yang kita inginkan, tetapi juga siapa yang mungkin terganggu olehnya. Menahan diri agar tidak menyusahkan sesama merupakan bagian dari kebaikan seorang muslim.
Menjaga suara, menghormati ketenangan
Ponsel memang milik kita, tetapi suara yang keluar darinya dapat memenuhi ruang yang digunakan bersama. Begitu pula percakapan telepon atau obrolan yang terlalu keras. Hak menggunakan fasilitas tidak berarti hak memaksa semua orang mendengarkan aktivitas kita.
Ketika mendengar para sahabat mengeraskan bacaan Al-Qur’an di masjid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan,
أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
“Ketahuilah, setiap kalian sedang bermunajat kepada Rabbnya. Maka janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain.”
Bacaan Al-Qur’an adalah kebaikan. Namun, dalam keadaan tersebut, Nabi tetap mengingatkan agar tidak saling mengganggu. Prinsip ini patut kita bawa ketika menggunakan ponsel atau berbicara di ruang bersama: sesuaikan volume, gunakan earphone bila diperlukan, atau berpindahlah ke tempat yang sesuai. Adab berbicara menuntut kita memperhatikan keadaan, bukan hanya merasa bahwa suara kita biasa saja.
Memberi ruang bagi hak orang lain
Gangguan tidak selalu berupa suara. Tas yang memenuhi kursi ketika orang lain perlu duduk, barang yang menutup jalan, atau obrolan tepat di depan pintu dapat menyulitkan pengguna lain. Kadang kita tidak bermaksud mengganggu, tetapi akibatnya tetap dirasakan orang di sekitar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya, lalu menempati tempat tersebut. Larangan ini mengajarkan penghormatan terhadap hak tempat orang lain. Dalam penggunaan fasilitas bersama, semangat menjaga hak itu perlu hadir pula ketika kita meletakkan barang, memilih tempat berdiri, dan menunggu giliran.
Oleh karena itu, rapikan barang agar tidak mengambil ruang yang dibutuhkan orang lain. Beri jalan di pintu masuk dan keluarnya penumpang. Biasakan tertib mengantre, serta patuhi ketentuan kursi prioritas. Jika mampu, memberi tempat secara sukarela kepada orang yang lebih membutuhkan adalah kebaikan. Membayar tiket memberi kita hak menggunakan layanan, bukan hak menguasai seluruh ruang atau mendahului orang lain sesuka hati.
Ingat pengguna setelah kita
Adab juga terlihat dari keadaan tempat yang kita tinggalkan. Bungkus makanan, tisu bekas, atau toilet yang kotor mungkin tidak lagi mengganggu kita setelah pergi. Namun, pengguna berikutnya harus berhadapan dengan sisa perbuatan kita.
Dalam hadis tentang cabang-cabang iman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ
“Dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.”
Menyingkirkan gangguan saja termasuk cabang iman. Maka, jangan meremehkan kebiasaan menjaga kebersihan: membuang sampah pada tempatnya, membersihkan bekas pemakaian toilet, dan memastikan barang kita tidak membahayakan orang yang lewat. Adanya petugas kebersihan tidak menghapus tanggung jawab pengguna. Jika menemukan bahaya yang tidak aman ditangani sendiri, sampaikan kepada petugas. Kepedulian tidak harus dilakukan dengan mengambil risiko yang tidak kita kuasai.
Peka sebelum ditegur, lapang ketika diingatkan
Diamnya orang lain belum tentu berarti mereka nyaman. Bisa jadi mereka sungkan, lelah, atau ingin menghindari pertengkaran. Oleh karena itu, jangan menunggu protes untuk merendahkan suara, memindahkan tas, atau memberi jalan. Luangkan perhatian untuk melihat keadaan sekitar.
Jika seseorang mengingatkan dengan alasan yang patut, dengarkan dan perbaiki tindakan kita. Mengucapkan maaf lalu mengecilkan volume jauh lebih bermanfaat daripada memperpanjang pembelaan. Sebaliknya, ketika kita perlu menegur, sampaikan dengan santun tanpa mempermalukan. Tujuannya menghilangkan gangguan, bukan memenangkan pertengkaran.
Kepekaan juga berarti memahami keterbatasan orang lain. Anak yang menangis, lansia yang bergerak perlahan, penyandang disabilitas, atau orang yang sedang kesulitan membutuhkan pengertian. Tidak semua keadaan yang mengusik kenyamanan dapat dikendalikan sepenuhnya. Jangan sampai keinginan menjaga ketertiban justru membuat kita kehilangan belas kasih.
Hadir dengan membawa kebaikan
Sebelum bertindak, tanyakan: adakah orang yang akan terganggu? Selama berada di sana, perhatikan: adakah yang perlu diberi ruang? Sebelum pergi, pastikan: apakah tempat yang kita tinggalkan layak digunakan kembali?
Kita tidak selalu perlu melakukan sesuatu yang besar untuk membawa manfaat. Merendahkan suara, menggeser barang, membuang sampah, dan menerima nasihat adalah langkah yang dekat dengan keseharian. Semoga Allah menolong kita untuk menjaga hak sesama dan menghadirkan kebaikan di mana pun berada. Di tempat umum, kita tidak sendirian; kenyamanan kita perlu berjalan bersama kepedulian kepada orang lain.
Baca juga: Adab Bertetangga
***
Penulis: Mochammad Wibisono
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan. Ithāful Qārī bit-Ta‘līqāt ‘alā Syarḥis Sunnah lil-Imām Al-Barbahārī, 1: 158.
Artikel asli: https://muslim.or.id/116856-di-tempat-umum-kita-tidak-sendirian.html